Jumat, 21 Oktober 2011

materi seminar AMC


Hasil Survei Pustaka terhadap Kasus-kasus Psikosomatis
dari Penelitian dan Pengalaman dr. R. Paryana Suryadipura (1994).
a. Penyakit Tekanan Darah Tinggi
Sifat -sifat penderita:
Takut akan tanggung jawab, biasanya kurang mendapat pendidikan agama di masa kecil, pekerja keras, ambisius, pintar diatas rata-rata,  agresifitas/vitalitas tinggi, ingin memuaskan setiap orang, setiap tindakan disertai kemarahan (walaupun tidak disadari).
Konflik yang dialami:
 ayah sangat kritis, harus patuh tetapi hati ingin memberontak
takut terhadap suami yang keras, sembari harus tetap bersikap manis
berusaha menyembunyikan penyakit dari istri/suami
Pengobatan: berkompromi dan mengurangi ketegangan (berubah sikap)

b. Penyakit Jantung
bersambung.....

Sabtu, 20 Agustus 2011

faktor-faktor timbulnya penyakit

Rangsangan Bersyarat

Cita-cita yang tidak dapat dilaksanakan merupakan rangsangan bersyarat yang tidak disusul dengan pemberian sesuatu yang sangat diharapkan. Rangsangan bersyarat yang terjadi berulang-ulang tetapi tidak disusul dengan perolehan apapun akan menyebabkan terhambatnya (inhibisi) saluran refleks bersyarat, yang nantinya dapat menimbulkan berbagai penyakit.

Penghambatan yang terjadi ini dapat diibaratkan dengan peristiwa yang berlangsung di dalam lampu listrik yang sedang menyala. Kabel di dalam bola lampu dibuat dari bahan yang tidak mudah menghantarkan arus listrik. Apabila arus listrik itu dapat melewati alat penghambat, maka pada tempat itu akan timbul panas yang tingginya sama dengan besarnya penghambatan dan arus listrik itu sendiri. Tekanan panas di dalam kabel ini dengan segera akan meningkat menjadi sangat tinggi, sehingga kabel tersebut akhirnya menyala.
Demikian pula halnya dengan arus listrik di dalam tubuh kita. Apabila perjalanan impuls listrik ini terhambat, maka pada tempat penghambatan itu akan terjadi penimbunan arus yang dirasakan oleh tubuh sebagai tekanan batin, yang pada gilirannya akan menjelma sebagai penyakit atau rasa sakit.

Penyakit-penyakit yang bersumber dari tekanan batin itulah yang dimaksud dengan penyakit psikosomatik. Sedangkan tekanan batin yang menjadi penyebabnya mungkin telah muncul sejak penderita masih kana-kanak. Penyebab itu mungkin adalah nafsu dan emosi yang difiksasikan. Untuk melakukan usaha preventif akan muncul atau kambuhnya penyakit psikosomatik, harus diketahui faktor-faktor penyebab terjadinya penyakit tersebut.
Faktor-faktor tersebut adalah
1. rumus bentuk pribadi si penderita
2. keadaan alam lingkungan, sosial dan fisik
3. cara setiap pribadi memberikan reaksi.

Ketiga faktor penyebab penyakit psikosomatik tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Rumus Bentuk Pribadi Penderita
Rumus bentuk pribadi berhubungan dengan nafsu yang sedang menguasai dan menetapkan bentuk fisik dan psikis yang tertentu. Seseorang yang dikuasai nafsu egocentros (lauwwamah)nya, disebut sebagai pemilik bentuk endomorphie dan pemilik bentuk psikis viscerotonia, seseorang yang dikuasai oleh nafsu polemos (amarah) disebut mempunyai bentuk fisik mesomorphie dan bentuk psikis somatotonia, seseorang yang dikuasai oleh nafsu eros (sufiah) mempunyai bentuk fisik ectomorphie dan mempunyai bentuk psikis cerebrotonia. Selanjutnya seseorang yang dikuasai oleh nafsu religios (muthmainah) mempunyai bentuk yang metafisik yang disebut metamorphie dan bentuk psikis yang disebut spiritotonia. Bagian-bagian tubuh mana yang menjadi sakit akan sangat tergantung pada rumus bentuk pribadi yang dimiliki oleh setiap orang pada setiap waktu (Suryadipura, 1994).

2. Keadaan Alam Lingkungan dan Sosial
Keadaan lingkungan juga merupakan kondisi yang memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap pribadi. Keadaan ini terdiri dari keadaan alam, biologis, sosial dan kultural, yang secara keseluruhan merupakan rangsangan bersyarat. Kebanyakan kita adalah produk dari cara berpikir masyarakat di sekitar kita. Bahkan, lingkungan sosial bisa menbentuk seseorang untuk gagal atau untuk berhasil (Dryden, 2002), ini tergantung pada sikap dan cara orang itu menghadapi lingkungan tersebut.

3. Cara Setiap Pribadi Memberikan Reaksi
Cara setiap pribadi dalam memberikan reaksi terhadap keadaan di sekelilingnya adalah cara seseorang menyesuaikan diri atau menolak ancaman yang datang dari luar, dalam rangka menjamin keselamatan dan keberadaannya. Sikap yang diperlihatkan oleh seseorang yang menghadapi ancaman demikian disebut emotioneele stress-situatie. Tetapi sikap adalah segala-galanya. Bukan kegagalan yang mengalahkan kita, tetapi cara kita menerima kegagalan itu yang menentukan kehidupan kita selanjutnya. Kemampuan untuk menghadapi situasi sulit seperti ini disebut Adversity Quotient. Adversity Quotient ini bisa dikembangkan (Stoltz, 2000). Hal ini sangat tergantung dari emosi yang sedang menguasai orang yang bersangkutan. Sedangkan emosi inipun juga bisa dikendalikan. Caranya adalah dengan mengubah orientasi hidup atau yang disebut oleh Agustian (2004) sebagai pusat orbit seseorang.

Minggu, 31 Juli 2011

SMK N 1 CANGKRINGAN

Inilah kondisi kami di SMK N 1 Cangkringan sesaat sebelum erupsi Merapi Oktober 2010 lalu, di gedung unit 2 :

Foto 1. Agung dan teman-teman, di lab TPHP

dan beginilah keadaan ruang yang sama beberapa saat kemudian :  


    foto 2. Sapipun menjadi abu, merah hijau kehidupan berubah kelabu


 Alhamdullilah kami tetap tegar....!! Semoga mereka yang terbawa pergi kembali kepadaNya mendapat ampunan dan kasihNya, termasuk siswa kami yang di foto 1 di atas. (Nano, Guru Biologi).


 

 

Sabtu, 30 Juli 2011

Proses Pertumbuhan Penyakit




Proses Pertumbuhan Penyakit

Proses pertumbuhan penyakit, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pada keadaan emosi tertekan yang berlangsung secara terus-menerus, impuls urat saraf yang datang dari pancaindra di dalam perjalanannya menuju kulit otak, mengalami penghambatanDengan jalan induksi, penghambatan ini tersebar ke seluruh otak, proses penyebaran ini disebut iradiasi.