Sabtu, 30 Juli 2011

Proses Pertumbuhan Penyakit




Proses Pertumbuhan Penyakit

Proses pertumbuhan penyakit, secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

Pada keadaan emosi tertekan yang berlangsung secara terus-menerus, impuls urat saraf yang datang dari pancaindra di dalam perjalanannya menuju kulit otak, mengalami penghambatanDengan jalan induksi, penghambatan ini tersebar ke seluruh otak, proses penyebaran ini disebut iradiasi. 



Oleh karena saluran yang memadai terhambat, maka impuls saraf tersebut tidak menuju ke alat-alat tubuh yang sebenarnya/seharusnya, dan memberikan reaksi yang asli atau refleks tak bersarat, akan tetapi terkumpul di dalam pusat di bawah kulit otak (korteks otak) yang disebut thalamus. Sesuai dengan rumus bentuk pribadi, maka impuls urat saraf akan mengalir menuju pusat di dalam hypothalamus yang berkorelasi dengan rumus bentuk pribadi, ini disebut diferensiasiKarena pusat di hyphothalamus di bawah pengaruh rangsangan yang berkelanjutan, dan mendapat rangsangan baru, maka alat tubuh yang menerima persarafan otonom dari pusat di dalam hypothalamus tadi (di dalam hypothalamus terdapat beberapa pusat pengatur organ tubuh otonom) akan bekerja secara lebih giat dan keras dibanding biasanya. Pekerjaan alat tubuh yang melebihi kebiasaan itu akan menimbulkan rasa sakit. Bahkan lambat-laun akan menimbulkan berbagai bentuk kerusakan. Penyakit yang tumbuh melalui cara inilah yang disebut penyakit psikosomatik.

Impuls urat saraf yang berkumpul di dalam thalamus, yang terjadi akibat penghambatan di dalam perjalanannya dari kulit otak akhirnya menuju bukan saja ke hypothalamus, melainkan juga ke kulit otak bagian motorik. Akibatnya, bagian motorik ini mendapatkan rangsangan dari thalamus sehingga menimbulkan gejala-gejala motorik pada tubuh, misalnya kejang dan tics. Tics adalah gerakan gerenyet spontan, abnormal karena mengerut dan melemasnya sekelompok serat otot, terutama otot wajah. Penyakit ini nyaris sama dengan penyakit histeris.

Sebagian dari impuls saraf yang berkumpul di dalam hypothalamus akhirnya juga merangsang pusat-pusat susunan saraf otonom dan sebagian lagi mengalir ke kelenjar hipofisis, yang dapat dianggap sebagai “dirigente van het klieren ensemble” atau the master of glands (Pengatur kelenjar-kelenjar lainnya). Walaupun tiap-tiap rumus bentuk pribadi mempunyai korelat berupa alat tubuh, kelenjar buntu maupun nafsu-nafsu sekaligus, namun kelenjar buntu adalah yang terutama berada di bawah perintah hipofisis.

Apabila tidak ada penghambatan impuls urat saraf yang datang dari kulit otak, maka impuls saraf akan menuju pada alat-alat tubuh yang menjadi tujuan yang sebenarnya, yaitu otot-otot dan kelenjar. Akan tetapi karena suatu hal, ada juga sebagian dari impuls urat saraf ini yang menuju pada thalamus dan hypothalamus, sehingga menimbulkan berbagai proses psikis, yang disertai dengan perubahan-perubahan fungsi alat-alat tubuh otonom, misalnya rangkaian perubahan di dalam gerakan jantung, perubahan tonus pembuluh darah, besar kecilnya teleng mata, bertambahnya air keringat dan air mata. Proses kejiwaan yang disertai dengan emosi akan selalu mempengaruhi fungsi-fungsi tubuh otonom, misalnya kegembiraan, yang disertai dengan muka yang kemerah-merahan, denyut jantung yang cepat dan rasa takut yang disertai oleh muka yang pucat.

Proses kejiwaan yang tumbuh sebagai akibat pengindraan yang tidak selaras dengan cita-cita, akan selalu disertai emosi-emosi dan demikian juga sebaliknya. Apabila seseorang mengalami emosi, maka pastilah di dalam batinnya sedang berlangsung pertentangan batin. Pertentangan batin selalu menimbulkan emosi dan penghambatan impuls urat saraf yang akhirnya akan banyak menimbulkan penyakit, terutama kalau penghambatan itu berlangsung secara terus menerus atau kronis (Suryadipura: 1994).

Pertentangan batin akan menimbulkan rasa sakit di dalam batin. Dan rasa sakit ini merupakan indikasi tentang adanya ketidakharmonisan antara cita-cita dengan pencapaian, yang akan menjelma dalam bentuk ketakutan, kegelisahan dan kebimbangan. Hal ini akan memberikan tekanan atas jasmani seseorang. Penyakit-penyakit tekanan darah tinggi, radang lambung, dan kencing manis yang disertai dengan keletihan urat saraf adalah akibat adanya pertentangan antara pengindraan  dengan batin (atau antara pengalaman dengan cita-cita). Jelaslah, bahwa kita tidak akan hidup sehat bila terdapat sesuatu yang mengingkari asas-asas yang kita idam-idamkan. (sumber: Pembinaan Budi Pekerti dengan Pendekatan Psikosomatik (Psychosomatic Approach) agar Anak terhindar dari Berbagai Penyakit, hal 25, oleh Sugiyono).



Daftar Pustaka
Suryadipura, R. Paryana. 1994. Manusia dengan Atomnya Dalam Keadaan Sehat dan Sakit (Anthopobiologi Berdasarkan Metafisika).  Edisi kedua. Jakarta. Bumi Aksara.

1 komentar:

  1. Wah, sangat bermanfaat. ternyata jiwa kita sangat menentukan kesehatan fisik ya..

    BalasHapus