Proses Pertumbuhan
Penyakit
Proses pertumbuhan penyakit, secara singkat dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Pada keadaan emosi tertekan yang berlangsung secara terus-menerus,
impuls urat saraf yang datang dari pancaindra di dalam perjalanannya menuju
kulit otak, mengalami penghambatan. Dengan jalan induksi, penghambatan ini tersebar
ke seluruh otak, proses penyebaran ini disebut iradiasi.
Oleh karena saluran yang memadai terhambat, maka
impuls saraf tersebut tidak menuju ke alat-alat tubuh yang
sebenarnya/seharusnya, dan memberikan reaksi yang asli atau refleks tak
bersarat, akan tetapi terkumpul di dalam pusat di bawah kulit otak (korteks otak)
yang disebut thalamus. Sesuai dengan rumus bentuk pribadi, maka
impuls urat saraf akan mengalir menuju pusat di dalam hypothalamus yang
berkorelasi dengan rumus bentuk pribadi, ini disebut diferensiasi. Karena
pusat di hyphothalamus di bawah pengaruh rangsangan yang berkelanjutan, dan
mendapat rangsangan baru, maka alat tubuh yang menerima
persarafan otonom dari pusat di dalam hypothalamus tadi (di
dalam hypothalamus terdapat beberapa pusat pengatur organ
tubuh otonom) akan bekerja secara lebih giat dan keras dibanding
biasanya. Pekerjaan alat tubuh yang melebihi kebiasaan
itu akan menimbulkan rasa sakit. Bahkan lambat-laun akan menimbulkan berbagai
bentuk kerusakan. Penyakit yang tumbuh melalui cara inilah yang disebut
penyakit psikosomatik.
Impuls
urat saraf yang berkumpul di dalam thalamus, yang terjadi akibat
penghambatan di dalam perjalanannya dari kulit otak akhirnya menuju bukan saja
ke hypothalamus, melainkan juga ke kulit otak bagian motorik.
Akibatnya, bagian motorik ini mendapatkan rangsangan dari thalamus sehingga
menimbulkan gejala-gejala motorik pada tubuh, misalnya kejang dan tics. Tics
adalah gerakan gerenyet spontan, abnormal karena mengerut dan melemasnya
sekelompok serat otot, terutama otot wajah. Penyakit ini nyaris sama dengan
penyakit histeris.
Sebagian dari impuls saraf yang berkumpul di
dalam hypothalamus akhirnya juga merangsang pusat-pusat susunan saraf otonom
dan sebagian lagi mengalir ke kelenjar hipofisis, yang dapat dianggap
sebagai “dirigente van het klieren ensemble” atau the master of
glands (Pengatur kelenjar-kelenjar lainnya). Walaupun tiap-tiap rumus
bentuk pribadi mempunyai korelat berupa alat tubuh, kelenjar buntu maupun
nafsu-nafsu sekaligus, namun kelenjar buntu adalah yang
terutama berada di bawah perintah hipofisis.
Apabila
tidak ada penghambatan impuls urat saraf yang datang dari kulit otak, maka
impuls saraf akan menuju pada alat-alat tubuh yang menjadi tujuan yang
sebenarnya, yaitu otot-otot dan kelenjar. Akan tetapi karena suatu
hal, ada juga sebagian dari impuls urat saraf ini yang menuju pada thalamus dan
hypothalamus, sehingga menimbulkan berbagai proses psikis, yang
disertai dengan perubahan-perubahan fungsi alat-alat tubuh otonom, misalnya
rangkaian perubahan di dalam gerakan jantung, perubahan tonus pembuluh darah,
besar kecilnya teleng mata, bertambahnya air keringat dan air mata. Proses
kejiwaan yang disertai dengan emosi akan selalu mempengaruhi
fungsi-fungsi tubuh otonom, misalnya kegembiraan, yang disertai
dengan muka yang kemerah-merahan, denyut jantung yang cepat dan rasa takut yang
disertai oleh muka yang pucat.
Proses
kejiwaan yang tumbuh sebagai akibat pengindraan yang tidak selaras dengan
cita-cita, akan selalu disertai emosi-emosi dan demikian juga sebaliknya. Apabila
seseorang mengalami emosi, maka pastilah di dalam batinnya sedang berlangsung
pertentangan batin. Pertentangan batin selalu menimbulkan emosi dan
penghambatan impuls urat saraf yang akhirnya akan banyak menimbulkan penyakit,
terutama kalau penghambatan itu berlangsung secara terus menerus atau kronis (Suryadipura:
1994).
Pertentangan batin akan menimbulkan rasa sakit di dalam batin. Dan rasa sakit ini merupakan indikasi tentang adanya ketidakharmonisan antara cita-cita dengan pencapaian, yang akan menjelma dalam bentuk ketakutan, kegelisahan dan kebimbangan. Hal ini akan memberikan tekanan atas jasmani seseorang. Penyakit-penyakit tekanan darah tinggi, radang lambung, dan kencing manis yang disertai dengan keletihan urat saraf adalah akibat adanya pertentangan antara pengindraan dengan batin (atau antara pengalaman dengan cita-cita). Jelaslah, bahwa kita tidak akan hidup sehat bila terdapat sesuatu yang mengingkari asas-asas yang kita idam-idamkan. (sumber: Pembinaan Budi Pekerti dengan Pendekatan Psikosomatik (Psychosomatic Approach) agar Anak terhindar dari Berbagai Penyakit, hal 25, oleh Sugiyono).

Wah, sangat bermanfaat. ternyata jiwa kita sangat menentukan kesehatan fisik ya..
BalasHapus