| aku di Radar Yogya Thursday, 18 August 2011 08:29 |
Lebih Dekat Dengan Para Guru Berprestasi Wakil DIY di Kancah Nasional (3)
Jalin Sinergitas Guru dan Murid Melalui PTK Mendidik murid tanpa indoktrinasi. Itulah metode yang diterapkan oleh Sugiyono, guru Biologi SMKN 1 Cangkringan yang juga menjadi wakil DIY dalam ajang lomba Guru Berprestasi Tingkat Nasional di Jakarta. YOGI ISTI PUJIAJI, Cangkringan JIKA suasana kelas ramai atau gaduh, para siswa saling bicara tanpa memedulikan guru yang berdiri di depan kelas, bisa jadi itu bukan semata-mata kesalahan siswa. Guru yang tak bisa mengkondisikan suasana itulah yang menjadi penyebabnya. “Kalau dalam kelas, kok¸ siswa tak merespon pelajaran, guru tak bisa menyalahkan anak-anak. Permasalahannya justru pada guru pengajar,” ujar Sugiyono saat berbincang dengan Radar Jogja. Sepintas, pernyataan itu seakan menjadi titik balik proses belajar mengajar yang umumnya terjadi. Di mana tiap siswa harus patuh dan menyimak setiap ucapan yang disampaikan oleh guru di dalam kelas. Namun, faktanya justru kekakuan yang bakal terjadi. Alhasil, akan muncul cap bagi seorang guru dengan istilah killer bagi pengajar yang temperamental. Sinergitas antara murid dan guru adalah penting. Hal itu bisa dicapai melalui proses. Dibutuhkan penelitian tindakan kelas (PTK) oleh guru masing-masing. Sebab, penyikapan terhadap karakter siswa akan berbeda antara kelas satu denga lainnya. Nah, upaya itulah yang menurut Sugiyono jarang dilakukan oleh seorang guru. “Sangat sedikit guru yang mau mencoba PTK. Awalnya memang berat, tapi nanti akan ketagihan setelah tahu hasilnya,” ujar guru yang pernah mengajar di SMAN 1 Temanggung, Jawa Tengah itu. Melalui PTK, Sugiyono mengaku mampu beradaptasi dengan siswa yang diampunya secara mudah. Proses transfer impuls dari guru kepada murid bisa tersampaikan dengan lebih mudah. “Tentu saja kedekatan saya dengan murid juga lebih bagus,” ucapnya. Dalam pelaksanaannya, PTK memang membutuhkan kesiapan mental. Pengalaman jam terbang mengajar pun tak bisa jadi penentu penilaian. Idealnya, saat melakukan PTK, seorang guru pengajar akan didampingi guru lain sebagai komentator. Dengan begitu, kekurangan dan kelebihan seorang guru saat mengajar siswa di dalam kelas bisa diukur. Di sisi lain, faktor karakter anak juga menjadi hal penting. Butuh identifikasi masalah, penyebab seseorang siswa malas. Apakah karena si guru yang galak atau memang kemampuan daya serap anak yang kurang. “Misi saya, membentuk karakter siswa tanpa indoktrinasi,” terangnya. Bagi Sugiyono, PTK bukan menjadi satu-satunya prestasi yang mengantarkannya meraih predikat guru berprestasi DIJ. Sebelumnya, Sugiyono pernah mempresentasikan karya ilmiah tentang pendidikan karakter yang berhubungan dengan kesehatan diri. “Kalau mau sehat, karakter seseorang harus terbuka,” katanya. Sugiyono mengklaim, hal itu tak bisa terjadi bagi orang yang memiliki pemikiran negatif. Pikiran negatif bisa mempengaruhi jiwa. Jika itu berlarut-larut, maka bisa merusak jasmani. Atau disebut penyakit psikosomatis. Misalnya orang berbohong, maka batinnya akan berontak (konflik batin). Namun biasanya muncul ketakutan (cemas) akan dampak akan kebohongan yang telah dilakukan. Hal itu bisa menimbulkan stres. Stres berkepanjangan itulah yang bisa mengakibatkan psikosomatis. Sesuai bidang ilmu yang digelutinya, menurut Sugiyono, psikosomatis bisa mengakibatkan kebutaan, lumpuh, dan gangguan pankreas. Untuk menghindari penyakit ini, maka segala beban pikiran harus dihilangkan. “Stel kendho saja asal tak berhubungan dengan hidup mati. Dengan catatan apa yang dihadapi tidak mengkhianati orang lain,” ungkapnya. Metode itu pulalah yang diterapkan Sugiyono dalam menjalani PTK. Dengan begitu, rasa grogi dan takut bercermin pada diri sendiri akan hilang.(*) |
Senin, 16 April 2012
Lebih Dekat Dengan Para Guru Berprestasi
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar